Dilema Indonesia dalam Peningkatan Profesionalisme Guru

Berbicara tentang profesi tenaga pendidik, menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional jelas membedakan antara tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Tenaga pendidik dipastikan merupakan tenaga profesional, yaitu yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Sedangkan tenaga kependidikan yakni anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

Jabatan tenaga pendidik merupakan suatu jabatan profesional. Bukan hanya menuntut kemampuan spesialisasi tenaga pendidik dalam arti menguasai pengetahuan akademik dan kemahiran profesional yang relevan dengan bidang tugasnya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga tingkat kedewasaan dan tanggung jawab serta kemandirian yang tinggi dalam mengambil keputusan. Kemampuan-kemampuan itu membuat tenaga pendidik memiliki nilai lebih dan kewibawaan yang tinggi terhadap peserta didik yang diajarnya.

Karena menjadi tokoh yang dipatuhi dan ditiru, maka dalam memerankan status (kedudukan)-nya, tenaga pendidik selalu berusaha merealisasikan norma-norma dan nilai kependidikan dalam dirinya. Dengan kata lain, ia terikat dengan kode etik. Dengan berusaha mewujudkan norma dan nilai kependidikan dalam dirinya, seorang tenaga pendidik menjadi berwibawa terhadap peserta didiknya.

Transformasi menuju sekolah bermutu di Indonesia, artinya membentuk kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis. Pasal 39 ayat 2 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional mempunyai visi terwujud penyelenggaraan pembelajaran sesuai prinsip-prinsip profesionalitas untuk memenuhi hak sama bagi setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan bermutu.

Apabila berbicara tentang rendahnya kualitas pendidikan, muaranya adalah para pendidiknya yang dijadikan sebagai kambing hitam. Kualitas kinerja dari para pendidik lantas dipertanyakan. Rupanya dalam pandangan masyarakat, antara kualitas pendidikan dan para pendidiknya merupakan dua sisi mata uang yang tidak mudah dipisahkan antara yang satu dengan yang lain.

Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Mereka di tuntut tidak hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi anak didik. Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru.

 

Kondisi Pendidik Saat Ini

Dewasa ini, sangat kelihatan sekali penurunan kualitas oleh tenaga pendidik. Kualitas guru yang ada memang memprihatinkan. Seharusnya guru menjadi contoh atau tuntunan untuk peserta didiknya. Namun, saat ini banyak tenga pendidik (guru) yang melakukan penyimpangan sosial. Misalnya seorang guru yang melakukan kekerasan terhadap muridnya, guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya, dan hal-hal lain yang dilakukan oleh guru yang dapat menurunkan kualitas kinerja dari seorang guru tersebut.

Misalnya saja kita ambil salah satu penyimpangan tersebut yakni persoalan tindak kekerasan terhadap anak di lembaga pendidikan semakin kompleks dan memprihatinkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tahun 2012 terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di sekolah hingga lebih dari 10 persen.

Wakil Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  Apong Herlina mengatakan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah terjadi dalam berbagai jenis baik itu dilakukan oleh guru  maupun antar siswa. Kasus kekerasan itu juga terjadi merata hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Catatan ini didasarkan pada hasil survey KPAI di 9 propinsi terhadap lebih dari 1000 orang siswa siswi. Baik dari tingkat Sekolah Dasar/MI, SMP/mts, maupun SMA/ma. Survey ini menunjukan 87,6% siswa mengaku mengalami tindak kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun psikis, seperti dijewer, dipukul, dibentak, dihina, diberi stigma negatif hingga dilukai dengan benda tajam. Dan sebaliknya 78,3 persen anak juga  mengaku pernah melakukan tindak kekerasan dari bentuk yang ringan sampai yang berat.

Lalu menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2004, kekerasan pelajar mulai umur 9-20 tahun yang dilaporkan ke kepolisian meningkat 20 persen pada 2013.

Sementara itu, hasil survei KPAI di sembilan provinsi, yaitu Sumatera Barat, Lampung, Jambi, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur, dengan total responden 1.026 siswa, menyebutkan masih tingginya tindak kekerasan pada siswa.

Berdasarkan data kekerasan tersebut, jelas pendidikan kita belum mampu menjadi wahana humanisasi bagi anak didiknya. Pendidikan kita bukannya menjadi ruang menyemai humanisasi, malah menjadi wahana melanggengkan kekerasan (bullying) dan ketidakmanusiawian terhadap anak didiknya. Pendidikan kita sepertinya justru digegas menjadi ajang unjuk kekerasan guru atas siswa atau senior terhadap juniornya.

Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan yang salah. Menurut WHO (2000), kekerasan terhadap anak atau child abuse dan neglect adalah tindakan melukai berulang-ulang secara fisik dan emosional anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi, dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual.

Kekerasan terhadap anak dalam dunia pendidikan bisa berbentuk kekerasan fisik, psikologis, verbal, emosi, dan sosial. Menurut Francis Wahono (2003), kekerasan lebih sering terjadi pada unsur utama pendidikan, yakni pelaku pendidikan.

Dari masalah-masalah yang dialami dunia pendidikan khususnya tentang penurunan kualitas profesionalisme tenaga pendidik, maka dunia pendidikan perlu memperbaiki kualitas dari tenaga pendidik.

Yang pertama tenaga pendidik perlu mengembangkan kinerjanya sebagai seorang pendidik. Menurut  UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas, dalam pengembangan kinerja tenaga pendidik, ia berhak untuk memperoleh pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas. Untuk itu, ia diberi kesempatan untuk menggunakan sarana dan prasrana serta fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugasnya. Namun demikian, pengembangkan kinerja tenaga pendidik harus beranjak dari kualifikasi minimum yang dimilikinya dan sertifikasi yang sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan ruhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan dan prestasi mereka di bidang pendidikan. Pengembangan kinerja tenaga pendidik, juga terkait dengan kompetensi yang harus diemban, yaitu kompetensi pedagogik, kompetesi sosial, kompetensi intelektual

Seorang pendidik harus senantiasa mengembangkan kinerjanya secara konsisten dan berkelanjutan mengingat peranannya  sebagai: (1) manajer pendidikan atau pengorganisasi kurikulum, (2) fasilitator pendidikan, (3) pelaksana pendidikan, (4) pembimbing atau supervisor para siswa, (5) penegak disiplin siswa, (6) model perilaku yang akan ditiru siswa, (7) konselor, (8) evaluator, (9) petugas tatausaha kelas, (10) komunikator dengan orang tua siswa dan masyarakat, (11) pengajar untuk meningkatkan profesi secara berkelanjutan, serta anggota profesi pendidikan. (Pidarta, 1997).

Dalam mencapai usaha optimal tujuan pendidikan, peran guru dan kinerjanya merupakan hal yang sangat penting. Secara ideal seorang pendidik diharapkan memiliki nilai-nilai kinerja positif seperti: prestasi kerja, rasa tanggung jawab, ketaatan, kejujuran, kerjasama, prakarsa, dan kepemimpinan. Hal-hal tersebut merupakan indikator kinerja seorang pendidik, selain latar belakang akademik dan keterampilan khusus yang dimilikinya. Untuk itu, segala upaya untuk memacu kinerja pendidik agar menjadi profesional akan sangat dipengaruhi oleh keterlaksanaan MBS, misalnya dalam kaitan dengan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang memperlancar tugas guru, perancangan proses belajar mengajar yang memacu metode kerja guru semakin kreatif, meningkatkan kemampuan akademik guru melalui program in job training sehingga mamacu kemampuan sumber daya manusia kependidikan, serta meningkatkan motivasi dan gairah kerja guru.

Pada dasarnya ada tiga kegiatan penting yang diperlukan pendidik untuk meningkatkan kualitas sehingga dapat meningkatkan pangkatnya sampai pada jenjang kepangkatan tertinggi. Pertama, memperbanyak tukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman mengembangkan materi pembelajaran dan berinteraksi dengan peserta didik. Tukar informasi ini bisadilakukan melalui KKG dan kegiatan ilmiah dengan topik bersifat aplikatif. Kedua, melakukan penelitian misalnya melalui Penelitian Tindakan (Action Research) dan sosialisasi hasil penelitian dalam pertemuan ilmiah. Ketiga, membiasakan diri mengkomunikasikan hasil penelitian yang dilakukan melalui media cetak agar dapat diakses secara luas.

Yang kedua tenaga pendidik perlu meningkatkan profesionalismenya sebagai tenaga pendidik yang berkompeten. Peningkatan profesionalisme tenaga pendidik sangat berkaitan erat dengan empat kriteria kinerja, yaitu karakteristik tenaga pendidik, proses-proses peningkatan profesionalisme, hasil dan kombinasi di antara ketiganya. Kualitas kerja perlu tenaga pendidik, kemampuan komunikasi, insiatif, dan motivasi kerja, termasuk hal yang perlu diperhatikan. Seorang tenaga pendidik harus memahami tugas dan tanggung jawabnya, memiliki kemampuan mengajar sesuai dengan bidangnya, mempunyai semangat tinggi, serta memiliki insiatif dan kemauan tinggi, sehingga ia memiliki energi yang optimal dalam menjalankan tugas profesionalismenya.

Dalam upaya pembinaan dan peningkatan profesionalisme tenaga pendidik, perlu pula dilakukan melalui pengembangkan konsep kesejawatan yang harmonis dan objektif. Untuk itu, diperlukan adanya sinergi dengan sebuah wadah organisasi (kelembagaan) para pendidik, dengan bentuk dan mekanisme kegiatan yang jelas, serta standar profesi yang dapat diterapkan secara praktis.

 

Kebijakan Pendidikan Profesi Guru (PPG)

Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan kualitas profesionalisme tenaga pendidik yakni diadakannya PPG (Pendidikan Profesi Guru). Pendidikan Profesi Guru ini merupakan wadah bagi calon guru dan guru untuk meningkatkan kualitasnya sebagai calon tenaga pendidik dan pendidik. Program PPG merupakan amanat Permendikbud Nomor 87 Tahun 2013 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan. Menurut ketentuan itu, PPG merupakan program pendidikan untuk mempersiapkan lulusan S-1 Kependidikan atau S-1/D-4 Non Kependidikan yang memiliki minat untuk menjadi seorang guru. Sebagai sebuah profesi para calon guru haruslah mengikuti pendidikan profesi. Ada 2 macam Pendidikan Profesi Guru (PPG) yaitu PPG Dalam Jabatan (UU No. 9 tahun 2010) dan PPG Pra Jabatan (UU No. 87 tahun 2013). Namun direncanakan pada tahun 2015 hanya akan diadakan PPG Pra Jabatan. PPG Pra Jabatan ditujukan kepada para calon guru mendapatkan sertifikat guru profesional sebagai prasyarat untuk menjadi guru.

Dalam UU No. 87 tahun 2013 pasal 8 ayat 1 disebutkan “Kuota peserta didik program PPG secara nasional ditetapkan oleh menteri.” Dan dalam Pasal 3 ayat 1 disebutkan “Program PPG diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan oleh menteri.”

Penetapan LPTK penyelenggara PPG ditetapkan oleh KEMENDIKBUD, dengan syarat sebagai berikut:

  1. memiliki program peningkatan dan pengembangan aktivitas intruksional atau yang sejenis dan berfungsi efektif,
  2. memiliki program dan jaringan kemitraan dengan sekolah-sekolah mitra terakreditasi paling rendah B dan memenuhi persyaratan untuk pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan (PPL),
  3. memiliki asrama untuk peserta PPG,
  4. memiliki laboratorium microteaching,
  5. memiliki sekolah laboratorium,
  6. memiliki laboratoriumworkshop Subject Specific Pedagogy (SSP).

Dalam UU No. 87 tahun 2013 pasal 6 ayat 1 disebutkan kualifikasi akademik calon peserta didik program PPG adalah sebagai berikut:

  1. S1 Kependidikan yang sesuai dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh.
  2. S1 Kependidikan yang serumpun dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh.
  3. S1/DIV Non Kependidikan yang sesuai dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh.
  4. S1/DIV Non Kependidikan yang serumpun dengan program pendidikan profesi yang akan ditempuh.
  5. S1 Psikologi untuk program PPG pada PAUD atau SD.

Selanjutnya dalam UU No. 87 tahun 2013 pasal 9 ayat 1 disebutkan sebagai berikut yaitu Struktur kurikulum program PPG berisi lokakarya pengembangan perangkat pembelajaran latihan mengajar melalui pembelajaran mikro, pembelajara teman sejawat, dan Program Pengalaman Lapangan (PPL), dan program pengayaan bidang studi dan/atau pedagogi. Tidak hanya lulusan sarjana pendidikan yang bisa mengikuti program PPG. S1/DIV Non Kependidikan dan S1 Kependidikan wajib mengikuti PPG dengan materi yang sama untuk bisa menjadi guru.

Dengan adanya PPG ini, diharapkan ke depannya para calon guru benar-benar menimba ilmu melalui Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Hal itu dinilai penting agar mereka bisa benar-benar memahami dan menghayati tentang kependidikan dan keguruan. Mengajar juga bukan sekadar transfer keilmuan (transfer of knowledge) tetapi juga transfer nilai. Karena itu, seorang pendidik harus memahami ilmu mengajar yang tepat agar dapat mentransfer keduanya. Di sinilah sesungguhnya pentingnya pendidikan profesi. Selain memberi bekal untuk mengajar, para sarjana juga akan dibimbing menjadi guru profesional.

 

Pendapat Tentang PPG

            Sebenarnya Indonesia sendiri belum mempunyai kesiapan untuk melaksanakan program Pendidikan Profesi Guru yang akan dilaksanakan pemerintah. Ada banyak faktor yang mendukung ketidaksiapan PPG di Indonesia, salah satu contohnya dengan diadakan tes PPG, jika para calon pendidik itu tidak memenuhi syarat atau tidak lulus tes tentu mereka akan bingung mau mencari pekerjaan kemana lagi. Padahal PPG satu-satunya jalan untuk mendapatkan sertifikat mengajar. Disini akan menyebabkan meningkatnya angka penggangguran dikarenakan para pendaftar PPG yang tidak lulus tes atau tidak memenuhi syarat. Kemudian kalau menurut saya, menjadi pendidik itu tidak instan. Menjadi pendidik itu butuh proses mempelajari ilmu-ilmu pendidikan guna melaksanakan tugasnya sebagai guru nantinya. Jadi sangat tidak adil jika para peserta PPG dari Non Kependidikan dapat mengikuti tes masuk untuk menjadi guru. Mudah sekali mereka hanya tinggal mengikuti tes masuk lalu bisa menjadi guru dan dapat langsung mengajar. Para peserta yang dari Kependidikan sebelumnya sudah mendapat ilmu-ilmu pendidikan selama sekitar 4 tahun lalu dilanjut PPG sekitar setengah tahun. Sedangkan para peserta yang dari Non Kependidikan hanya belajar ilmu-ilmu pendidikan hanya sekitar 1 tahun pada PPG saja. Waktu yang digunakan para peserta dari Non Kependidikan bahkan lebih singkat daripada waktu belajar yang digunakan para peserta Kependidikan. Ini menunjukkan ketidakadilan. Kemudian lembaga penyelenggara atau LPTK banyak yang belum memenuhi syarat untuk meyelenggarakan program PPG tersebut.

Seharusnya pemerintah mengkaji ulang dari berbagai sudut pandang sebelum dilaksanakannya program PPG tersebut. Apakah Indonesia sudah siap melaksanakan program PPG dengan segala syarat-syaratnya? Apakah program tersebut efektif bagi calon tenaga pendidik di Indonesia? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang masih mengganjal saat kita tahu akan dilaksanakan program PPG beserta kebijakan-kebijakannya.

kepadamu, Rinduku

mengingatmu mirip pagi

yang selalu sederhana

tentang rindu yang memecah

dan kita hanya perlu saling mengeja nama

 

kau tahu, betapa berbahayanya sebuah rindu

tidak, ini bukan tentang tebing dengan sisi runcing

atau sepucuk senapan berisi dua peluru

atau kejahatan yang tersimpan dalam dada seseorang

aku hanya sedang mengatakan hal kecil yang tak mampu kubisikkan pada diriku sendiri

bait-bait dari puisi Yetti Aka yang berjudul ”Kepada Flo”

 

 

yaa, seperti rinduku padamu

rindu yang setiap saat bisa menggerogoti persaaan ini

rindu yang selalu muncul saat tidak ada ataupun ada kau disampingku, sayang

setiap hari kita bertemu

yaa padahal setiap hari mata ini selalu melihat tegapnya tubuhmu berjalan mendekatiku

tapi.. rasa rindu ini tidak bisa ditutup-tutupi

terkadang aku harus jaim, aku harus berbohong kepadamu jika aku tidak ingin bertemu

dan ternyata ini justru menyakiti, dan sangat menyakitiku

terlalu bodoh untukku menahan berat jutaan rindu apalagi menahan egoku

aku tidak bisa menahan egoku untuk selalu ingin bertemu denganmu

aku sangat merindukanmu, sayang.

 

Di Bulan April, Aku Duduk Menatapmu

Di Bulan April, Aku Duduk Menatapmu

Oleh : Kedung Darma Romansha

Sudah lama kugendong tahun-tahun dipunggungku

Bila aku istirahat

Aku kunyah laparku

Bersama waktu yang tumbuh di tubuhku

Waktu menggelinding di setiap tikungan

Aku seret tahun demi tahun dengan hati yang kosong

Bentuk wajahmu yang mulai pudar

O, masa depan yang gaib

Tangan-tangan ajaib

Menggapaiku dalam kecemasan

Kesedihan keluar dari pori-poriku

Aku melihat wajah-wajah buruh meleleh disengat matahari

Orang-orang berjalan miring

Dan hari menjadi putih

Lalu kulihat masa depan mengintipku

Duduk menatap masa lalu

Sejenak aku ingin istirahat disini

Menikmati segelas kopi

Dan merampungkan setumpuk catatan

Yang belum kulunaskan

Tapi takdir memaksaku

Untuk segera berkemas dari rindu

Mengusir hantu-hantu masa lalu

Dan selekasnya pergi meninggalkan malam,

Bulan, dan gugusan kenangan

Yang melayang-layang di kepalaku

Parafrase dari sebuah puisi berjudul Di Bulan April, Aku Duduk Menatapmu karya Kedung Darma Romansha , terbit di  Harian Kompas Minggu, 25 Mei 2014.

Tua, ya saat ini aku sudah mulai tua. Tahun demi tahun telah aku lalui. Bila aku mati, aku hanya bisa terdiam. Aku tak bisa melakukan apa-apa, aku hanya terdiam melihat tumbuhan yang dapat tumbuh dengan bebasnya disamping tubuhku yang tergeletak lemah.

Waktu terus bergulir tanpa henti. Aku melewati waktu yang terus berjalan itu dengan perasaan hambar. Bergulirnya waktu, ingatanku pun tampaknya mulai pudar. Aku tak bisa menggapai ingatanku agar terus mengingat masa-masa indah itu.

Seketika itu aku merasakan kesedihan yang teramat dalam. Aku tidak bisa lagi mengenali orang-orang yang berada di sekelilingku. Begitu cepatnya ingatan itu hilang seraya ajal yang mulai menjemputku. Seraya itu pula sekelebat bayangan tentang masa-masa indah itu datang.

Ingin rasanya sejenak aku beristirahat, entah itu sekedar menikmati secangkir kopi ataupun melakukan amalan-amalan yang belum sempat aku perbuat dulu. Tapi takdir berkata lain. Aku dipaksa untuk segera berkemas dan pergi dari bayang-bayang masa laluku. Aku dipaksa pergi, pergi meninggalkan malam-malam indah, meninggalkan bulan dimalam hari, dan satu lagi meninggalkan kenangan-kenangan yang terus memenuhi kepalaku. Aku harus pergi meninggalkan dunia ini.

 

Simulasi Matematika “Menghitung Luas dengan Satuan Baku dan Tidak Baku”

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Tugas ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Pendidikan Matematika SD 2

Dosen Pengampu : Dr. Siti Kamsiyati, M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

Achmad Nurcahyo Eko Saputro                 (K7112001)

Afina Nur Fadhila                                       (K7112004)

Ani Subekti                                                    (K7112019)

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2014

 

 

SILABUS

Satuan Pendidikan          :  SDN …

Mata Pelajaran                :  Matematika

Kelas/ Semester                :  IV (Empat) /1 (satu)

Standar Kompetensi        :Menggunakan konsep luas bangun datar sederhana dalam pemecahan masalah

Kompetensi Dasar           : Menentukan luas persegi, persegi panjang, dan segitiga dengan satuan baku dan satuan tidak baku

Indikator Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu Penilaian Sumber Belajar
Kognitif

  • Siswa mampu menentukan luas bangun datar persegi dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku dengan benar.
  • Siswa mampu menentukan luas bangun datar persegi panjang dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku dengan benar.
  • Siswa mampu menentukan luas bangun datar segitiga dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku dengan benar.

Afektif

  • Siswa dapat menjawab pertanyaan guru mengenai luas bangun datar persegi, persegi panjang dan segitiga menggunakan satuan baku dan tidak baku.
  • Siswa dapat bekerja sama dengan teman per kelompok untuk mengerjakan soal dari guru.
  • Siswa mendengarkan dan menilai teman yang sedang mempresentasikan hasil diskusi.

Psikomotor

  • Siswa dapat menempatkan masing masing satuan luas untuk mencari luas bangun datar.
  • Siswa dapat mendemonstrasikan penggunaan pengukuran luas dengan satuan  tidak baku.
 

Operasi hitung sederhana luas bangun datar dengan satuan baku dan tidak baku.

Pendahuluan

–      Guru membuka pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.

–      Guru  melakukan presensi siswa

–      Guru menyanyikan lagu “Lihat kebunku” dan bercerita tentang bentuk dan luas kebun yang ber bentuk segi empat atau segitiga  yang berkaitan sebagai wujud apersepsi.

–      Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari hari ini dan tujuan yang akan dicapai.

–     Guru memberikan motivasi dan dorongan untuk menarik minat agar belajar dengan sungguh-sungguh.

Kegiatan Inti

–     Guru menjelaskan tentang macam macam bangun datar.

–     Guru menjelaskan bangun datar persegi, persegi panjang dan segitiga.

–     Guru menjelaskan satuan luas baku dan tidak baku.

–     Guru memperlihatkan styrofoam dan karton satuan luas sebagai alat untuk membantu dalam menemukan luas bangun datar dengan satuan tidak baku.

–     Guru menjelaskan penggunaan media styrofoam dan karton tadi untuk mencari luas bangun datar dengan satuan tidak baku.

–   Siswa mengamati dan mendengarkan penjelasan guru

–   Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa mengenai penggunaan styrofoam dan karton dalam menemukan satuan luas tidak baku pada bangun datar.

–   Guru memberi kesempatan kepada siswa menemukan luas bangun datar dengan satuan luas tidak baku menggunakan media styrofoam dan karton.

 

–   Guru menjelaskan satuan luas baku pada bangun datar.

–     Guru menjelaskan rumus rumus mencari luas bangun datar persegi, persegi panjang dan segitiga dengan satuan baku.

–   Guru menjelaskan cara mencari luas bangun datar dengan menggunakan rumus.

–   Siswa mengamati dan mendengarkan penjelasan guru

–   Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa mengenai penggunaan rumus untuk mencari luas bangun datar.

–   Guru memberi kesempatan kepada siswa menemukan luas bangun datar dengan menggunakan rumus.

 

–   Guru membagi siswa ke dalam empat kelompok.

–   Guru membagi LKS tentang luas bangun datar.

–    Siswa berdiskusi menyelesaikan LKS yang diberikan guru.

–   Perwakilan siswa per kelompok mempresentasikan ke depan kelas hasil diskusi.

–   Kelompok lain mengamati dan memberi penilaian.

–     Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya bila ada materi yang belum jelas.

Penutup

–     Guru melakukan refleksi kegiatan pembelajaran yang telah disampaikan

–     Guru memberikan penguatan dan kesimpulan  kepada siswa.

–      Guru memberikan tugas rumah (PR) sebagai tindak lanjut

1 x 35 menit Tes tertulis dan tes lisan –     Tri Astuti, Lusia dan Sunardi. 2009. Matematika untuk Kelas IV SD/MI.Jakarta: Depdiknas.

–     Kismiantini. 2008. Dunia Matematika untuk Kelas IV SD/MI. Jakarta: Depdiknas.

–     Susanto, Irwan dan Kartika Sari, Maharani.2009. Matematika

untuk SD/MI Kelas IV. Jakarta: Depdiknas.

 


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah                         :           …………………….

Mata Pelajaran            :           Matematika

Kelas/semester              :           IV (Empat) /1 (satu)

Pertemuan ke               :           4

Alokasi waktu                        1 x 35 menit        

 

 

  1. Standar Kompetensi

Menggunakan konsep luas bangun datar sederhana dalam pemecahan masalah.

 

  1. Kompetensi Dasar

Menentukan luas persegi, persegi panjang, dan segitiga dengan satuan baku dan satuan tidak baku

 

  1. Indikator

Kognitif

  • Siswa mampu menentukan luas bangun datar persegi dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku dengan benar.
  • Siswa mampu menentukan luas bangun datar persegi panjang dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku dengan benar.
  • Siswa mampu menentukan luas bangun datar segitiga dengan menggunakan satuan baku dan tidak baku dengan benar.

Afektif

  • Siswa dapat menjawab pertanyaan guru mengenai luas bangun datar persegi, persegi panjang dan segitiga menggunakan satuan baku dan tidak baku.
  • Siswa dapat bekerja sama dengan teman per kelompok untuk mengerjakan soal dari guru.

Psikomotor

  • Siswa dapat menempatkan masing masing satuan luas untuk mencari luas bangun datar.
  • Siswa dapat mendemonstrasikan penggunaan pengukuran luas dengan satuan  tidak baku.

 

  1. Tujuan Pembelajaran
  2. Melalui penjelasan guru tentang luas bangun datar menggunakan satuan baku dan tidak baku, peserta didik dapat meyelesaikan soal luas bangun datar persegi, persegi panjang, dan segitiga dengan benar.
  3. Melalui tanya jawab tentang hasil luas bangun datar menggunakan satuan baku dan tidak baku, siswa dapat mengembangkan sikap berani dan rasa percaya diri.
  4. Melalui observasi tentang penggunaan styrofoam dan karton dalam mencari luas bangun datar, siswa dapat menghitung luas persegi, persegi panjang, dan segitiga dengan satuan tidak baku.
  5. Melalui demonstrasi penggunaan styrofoam dan karton dalam mencari luas bangun datar, peserta didik dapat mengembangkan sikap ingin tahu.

 

  1. Dampak Pengiring

Setelah pembelajaran usai, diharapkan peserta didik secara bertahap mampu menguasai dan dapat menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari yang berkenaan dengan materi yang telah disampaikan mengenai luas bangun datar dengan satuan baku dan tidak baku.

 

  1. Materi Pembelajaran
  2. Macam-macam bangun datar (Persegi, Persegi Panjang, dan Segitiga).
  3. Rumus luas macam-macam bangun datar(Persegi, Persegi Panjang, dan Segitiga).
  4. Satuan baku dan tidak baku.
  5. Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran: ceramah

tanya jawab

demonstrasi

  1. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan  

Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Waktu
Pendahuluan

 

 

  1. Guru membuka pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.
  2. Guru  melakukan presensi siswa
  3. Guru menyanyikan lagu “Kebunku” dan bercerita tentang bentuk dan luas kebun yang ber bentuk segi empat atau segitiga  yang berkaitan sebagai wujud apersepsi.
  4. Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari hari ini dan tujuan yang akan dicapai.
  5. Guru memberikan motivasi dan dorongan untuk menarik minat agar belajar dengan sungguh-sungguh.
5 menit

 

 

 

Kegiatan  Inti
  1. Guru menjelaskan tentang macam macam bangun datar.
  2. Guru menjelaskan bangun datar persegi, persegi panjang dan segitiga.
  3. Guru menjelaskan satuan luas baku dan tidak baku.
  4. Guru memperlihatkan styrofoam dan karton satuan luas sebagai alat untuk membantu dalam menemukan luas bangun datar dengan satuan tidak baku.
  5. Guru menjelaskan penggunaan media styrofoam dan karton tadi untuk mencari luas bangun datar dengan satuan tidak baku.
  6. Siswa mengamati dan mendengarkan penjelasan guru
  7. Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa mengenai penggunaan styrofoam dan karton dalam menemukan satuan luas tidak baku pada bangun datar.
  8. Guru memberi kesempatan kepada siswa menemukan luas bangun datar dengan satuan luas tidak baku menggunakan media styrofoam dan karton.
  9. Guru menjelaskan satuan luas baku pada bangun datar.
  10. Guru menjelaskan rumus rumus mencari luas bangun datar persegi, persegi panjang dan segitiga dengan satuan baku.
  11. Guru menjelaskan cara mencari luas bangun datar dengan menggunakan rumus.
  12. Siswa mengamati dan mendengarkan penjelasan guru
  13. Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa mengenai penggunaan rumus untuk mencari luas bangun datar.
  14. Guru memberi kesempatan kepada siswa menemukan luas bangun datar dengan menggunakan rumus.
  15. Guru membagi siswa ke dalam empat kelompok.
  16. Guru membagi LKS tentang luas bangun datar.
  17. Siswa berdiskusi menyelesaikan LKS yang diberikan guru.
  18. Perwakilan siswa per kelompok mempresentasikan ke depan kelas hasil diskusi.
  19. Kelompok lain mengamati dan memberi penilaian.
  20. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya bila ada materi yang belum jelas.
25 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penutup
  1. Guru melakukan refleksi kegiatan pembelajaran yang telah disampaikan
  2. Guru memberikan penguatan dan kesimpulan dari materi kepada siswa.
  3. Guru memberikan tugas rumah (PR) sebagai tindak lanjut
5 menit

 

  1. Prosedur Penilaian

Prosedur                : Tes proses dan tes akhir

Teknik                   : Tes dan nontes

Jenis test                : Tertulis

Bentuk test            : Isian

Alat test                : Butir-butir soal evaluasi, kunci jawaban, skor penilaian, lembar penilaian

 

 

 

  1. Sumber Belajar dan Media

a)      Sumber Belajar

  •  Tri Astuti, Lusia dan Sunardi. 2009. Matematika untuk Kelas IV SD/MI.Jakarta: Depdiknas.
  • Kismiantini. 2008. Dunia Matematika untuk Kelas IV SD/MI. Jakarta: Depdiknas.
  • Susanto, Irwan dan Kartika Sari, Maharani.2009. Matematika
  • untuk SD/MI Kelas IV. Jakarta: Depdiknas.

 

b)      Media

Styrofoam satuan luas dan karton

 

 

 

Surakarta, 16 April 2014

Dosen                                                          Mahasiswa

 

 

 

(………………………….)                                         (……………………….)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran         I           : Materi Pembelajaran

Lampiran         II          : Lembar Soal Evaluasi

Lampiran        III          : Kunci Jawaban Evaluasi

Lampiran        IV          : Pedoman penilaian

 

 

 

Lampiran I

MATERI PEMBELAJARAN

 

  1. BANGUN DATAR

Bangun datar dapat didefinisikan sebagai bangun yang rata yang mempunyai dua dimensi yaitu panjang dan lebar tetapi tidak mempunyai tinggi dan tebal dan merupakan sebuah  bangun  berupa  bidang  datar yang dibatasi oleh beberapa ruas garis.

 

  1. MACAM-MACAM BANGUN DATAR

 

SEGITIGA

Definisi:

Segitiga adalah bangun geometri yang dibuat dari tiga sisi yang berupa garis lurus dan tiga sudut.

 

 

 

Sifat-Sifat:

Jumlah sudut pada segitiga besarnya 180⁰.

Jenis-jenis segitiga :

 

1) Segitiga Sama Sisi

a. mempunyai 3 simetri lipat.

b. mempunyai 3 simetri putar.

c. mempunyai 3 sisi sama panjang.

d. mempunyai 3 sudut sama besar yaitu 60⁰.

 

2) Segitiga Sama Kaki

a. mempunyai 1 simetri lipat.

b. mempunyai 1 simetri putar.

c. mempunyai 2 sisi yang berhadapan sama panjang.

 

3) Segitiga Siku-Siku

a. tidak mempunyai simetri lipat dan simetri putar.

b. mempunyai 2 sisi yang saling tegak lurus.

c. mempunyai 1 sisi miring.

d. salah satu sudutnya adalah sudut siku-siku yaitu 90⁰.

e. untuk mencari panjang sisi miring digunakan rumus phytagoras :

( +  =  )

 

 

PERSEGI

Definisi:

Persegi adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh empat buah rusuk yang sama panjang dan memiliki empat buah sudut siku-siku.

Sifat:

Mempunyai 4 titik sudut.

Mempunyai 4 sudut siku-siku 90⁰.

Mempunyai 2 diagonal yang sama panjang.

Mempunyai 4 simetri lipat.

Mempunyai 4 simetri putar.

 

PERSEGI PANJANG

Definisi:

Persegi panjang adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh dua pasang rusuk yang masing-masing sama panjang dan sejajar dengan pasangannya, dan memiliki empat buah sudut siku-siku.

Sifat Sifat:

Sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar.

Sisi-sisi persegi panjang saling tegak lurus

Mempunyai 4 sudut siku-siku 90⁰.

Mempunyai 2 diagonal yang sama panjang

Mempunyai 2 simetri lipat.

Mempunyai 2 simetri putar

 

Rumus Bangun Datar

Rumus Persegi

Luas = s x s =  Keliling = 4 x s

dengan s = panjang sisi persegi

 

Rumus Persegi Panjang

Luas = p x l

p = Luas : lebar

l = Luas : panjang

Keliling = 2p + 2l = 2 x (p + l)

dengan p = panjang persegi panjang, dan l = lebar persegi panjang

 

Rumus Segitiga

Luas = ½ x a x t

dengan a = panjang alas segitiga, dan t = tinggi segitiga

Panjang sisi miring segitiga siku-siku dicari dengan rumus Phytagoras ( +  =  )

 

  1. Satuan Baku dan Satuan Tidak Baku

Satuan tidak baku adalah satuan yang tidak ditetapkan sebagai satuan pengukuran secara umum atau secara ilmiah, karena pengukuran ini tidak dapat dinyatakan dengan jelas atau tidak dapat digunakan untuk memeriksa ketepatan suatu instrumen.

Satuan baku adalah satuan yang ditetapkan sebagai satuan pengukuran secara umum (internasional) karena pengukuran dengan satuan baku dapat dinyatakan dengan jelas dan dapat dipakai untuk memeriksa ketepatan suatu instrumen.

Contoh :

1) Satuan tidak baku yaitu : jengkal tangan, depa, hasta dan feet.

2) Satuan baku yaitu meter, kg, cm, sekon, dan lain-lain.

 

 

  1. Menghitung Luas dengan Satuan Baku dan Tidak Baku
  2. Satuan Tidak Baku

Panjang dan lebar pada persegi disebut sisi (s). Luas daerah bidang datar adalah banyak persegi satuan yang menutupi bangun tersebut. Menghitung banyak persegi satuan sama dengan menghitung luas bidang datar tersebut.

 

Luas persegi diatas adalah 36 satuan persegi.

Diperoleh dari = 6 satuan x 6 satuan = 36 satuan.

Luas persegi = sisi x sisi = s x s = s2

  1. Satuan Baku

Luas Persegi = sisi x sisi = s x s = 6 cm x 6 cm = 36 cm2

 

Lampiran II

Lembar Soal Evaluasi

 

  1. Hitunglah luas pesegi panjang yang mempunyai panjang 25 cm dan lebar 14 cm !
  2. Berapa tinggi segitiga yang mempunyai luas 108 cm2 dan alasnya 12 cm?
  3. Seorang petani mempunyai sebidang tanah yang luasnya 432 m2. Jika tanah tersebut berukuran panjang 24 m, tentukan lebar tanah tersebut?
  4. Ibu ani ingin membuat pintu untuk kamarnya, jika lebar pintu tersebut 100 cm, dan panjangnya 3,5 m, maka berapa meter luas pintu bu Ani?
  5. Ada sebuah jendela berbentuk persegi yang luasnya 169 cm2 berapa cm sisi jendela tersebut?


 

Lampiran III

Kunci Jawaban Evaluasi

 

  1. Diketahui        :        p = 25 cm

l = 14 cm

Ditanya           : Luas persegi panjang ?

Jawab              : L = p x l

= 25 cm x 14 cm

= 350 cm2

  1. Diketahui        :  Luas segitiga = 108 cm2

a = 12 cm

Ditanya : tinggi segitiga ?

Jawab : L =  =  = 108 cm2

t = 18 cm

 

  1.  Diketahui             : L = 432 m2, p = 24 m

Ditanya                : lebar tanah ?

Jawab                   : L = p x l

432 m2 = 24 m x l

l =  = 18 cm

 

  1. Diketahui             : l = 100 cm= 1 m , p = 3,5 m

Ditanya                : L ?

Jawab                    : L = p x l

= 3,5 m x 1 m

= 3,5 m2

 

  1.  Diketahui            : L= 169 cm2

Ditanya                : s ?

Jawab                   : L = s x s = 169 cm2

S =  = 13 cm

 

 

Lampiran IV

Pedoman penilaian

 

Setiap soal yang dijawab benar diberi nilai 2

Setiap soal yang dijawab salah diberi nilai 0

Nilai akhir      =          Betul x 10

 

 

 

Resensi Buku Happy Family! 2

Ups, Tertangkap Basah!

Oleh: Afina Nur Fadhila

 

Judul Buku                   : Happy Family! 2 (Tertangkap Basah)

Penulis                           : Christine Saigner

Penerjemah                  : Airin Miranda

Penerbit                         : PT. Bhuana Ilmu Populer

Tahun Terbit                 : 2013

Jumlah Halaman          : 91 halaman

 

Christine Sagnier, sang penulis buku, adalah Direktur Program Bahasa Perancis dan spesialis dalam Linguistik Terapan dan Akuisisi Bahasa Kedua di Princetone University. Dia saat ini bertugas dari kurikulum sarjana di Bahasa Perancis dan Kebudayaan dan bertanggung jawab atas program pelatihan dan pendampingan untuk Asisten dalam Instruksi.

Kepentingan penelitiannya meliputi pembelajaran manusia dan kognisi, psikolinguistik, teori sosial budaya dan sosiokognitif, analisis wacana, multiliteral dan semiotika sosial. Dia telah menerbitkan artikel dalam jurnal penelitian Eropa. Bukunya “Perspektif Sosiokognitif” telah diterbitkan oleh Peter Lang pada tahun 2013.

Selain menerbitkan buku-buku pembelajaran dan artikel ilmiahnya, dia juga seorang penulis cerita seri anak-anak Happy Family. Buku cerita berseri ini memiliki 2 cerita sekaligus dalam 1 buku. Buku ini menceritakan kegiatan sehari-hari sebuah keluarga yang dikemas apik oleh Christine Saigner dalam cerita anak yang mengandung banyak nilai moral.

Buku Happy Family ini memuat dua cerita sekaligus, yakni Hari Rabu Istimewa dan Tertangkap Basah. Namun, kali ini peresensi hanya akan membahas kisah kedua yang berjudul Tertangkap Basah.

 

Cerita dimulai ketika suatu hari setelah pulang sekolah, tiga sahabat berkumpul menceritakan kegiatan yang akan mereka lakukan saat liburan nanti. Lola bercerita bahwa ia akan ke rumah ayahnya di Britania dan disana ia akan diajak naik pesawat.

Ketiga sahabat itu pulang bersama, lalu melewati toko permen. Jeanne ingin sekali membeli permen namun uang sakunya tidak cukup. Begitu juga dengan uang saku Marion dan Lola. Namun Jeanne memaksa masuk kedua sahabatnya. Hanya enam permen yang dapat ia beli dengan sisa uang sakunya. Lalu ia mendapatkan ide. Mencuri! Jeanne menyuruh temannya memasukkan masing-masing tiga permen ke dalam saku mantel mereka. Namun perasaan Lola sangatlah takut. Jelas saja, karena Lola tidak pernah mencuri. Dan Lola teringat pesan kakeknya bahwa “Mencuri sedikit atau banyak, sama saja salahnya.” Lola tahu itu, kakeknya berulangkali memberitahunya. Maka, saat dia mencuri permen di sebuah toko, perasaan Lola jadi tidak enak.

Sepulang dari sekolah, ia langsung menemui Ibunya. Ibunya kaget. Tapi Ibu Lola tidak memarahinya, Lola disuruh untuk mengembalikan permen itu dan membayarnya. Awalnya Lola takut, namun dengan keberaniannya Lola pun pergi ke toko permen tersebut ditemani Ibunya. Penjual permen itu, Pak Martinot, tidak terlihat marah ketika Lola menceritakan kejadian pencurian permen tersebut. Pak Martinot malah memuji Lola sebagai anak yang jujur dan berani. Lalu Lola diberinya satu permen lolipop rasa kesukaan Lola.

Liburan pun tiba, Lola dan kakaknya meluncur ke Britania menggunakan kereta. Sesampainya di Britania, mereka harus menunggu Ayahnya menjemput mereka. Saat menunggu di peron terasa membosankan. Tom, kakak Lola, melihat toko yang disana tertera banyak diskon DVD. Tom merasa tertarik melihatnya dan mengajak Lola ke toko tersebut. Sembari melihat-lihat, Tom berpikir bahwa dirinya tidak membawa uang sepeserpun apalagi Lola. Terbesit dipikiran Tom untuk mencuri DVD tersebut. Dan tanpa pikir panjang, Tom akhirnya melakukan hal tersebut. Lola sudah memberitahunya untuk jangan melakukan hal tersebut, namun Tom tidak menggubris kata-kata Lola tersebut.

Tak lama kemudian, petugas keamanan yang sedari tadi melihat gerak-gerik Tom akhirnya mendekatinya. Lalu Tom dibawa ke kantor keamanan, Tom diminta untuk mengakui perbuatannya. Awalnya Tom mengelak, namun akhirnya ketahuan juga ia mencuri DVD. Lalu petugas keamanan menelfon orangtua Tom dan Lola. Dan akhirnya, tak lama kemudian Ayah mereka pun datang dan membayar DVD yang dicuri oleh Tom. Sepulang dari kantor keamanan, Ayah mereka meluapkan kekecewaannya pada mereka dan menjelaskan pada mereka bahwa jika ingin mendapat barang yang diinginkan, menabunglah dulu. Jangan selalu mengikuti nafsu. Dan mencuri itu adalah perbuatan yang tercela. Tom dan Lola sangat terdiam dan sangat menyesali perbuatannya.

 

Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh anak sekolah dasar karena menceritakan kegiatan sehari-hari sebuah keluarga dan mengandung banyak pesan moral didalam cerita tersebut. Bahasa yang digunakan dalam cerita ini pun menggunakan bahasa yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari jadi pembaca dapat mudah memahami isi dari cerita tersebut. Selain dengan bahasa yang mudah dipahami, illustrasi yang telah disediakan pun dapat membuat pembaca makin menghayati dalam membaca cerita tersebut. Dalam meresensi buku cerita ini, peresensi tidak menemukan kekurangan yang signifikan dalam buku cerita ini sehingga peresensi merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh anak-anak sekolah dasar.

 

 

ketika …

Ketika meyakinkan diri sendiri terasa sangat sulit

Ketika pikiran negatif terus membayangi

Ketika rasa percaya ini mulai pudar

Dan ketika aku mulai digerayangi rasa keragu-raguan

Disaat itulah aku merasa sangat lemah

 

Kadang untuk mempercayaimu, aku butuh beribu-ribu alasan untuk meyakinkan diriku sendiri

Entah mengapa?

Aku juga tidak mengerti apa maunya hati ini, apa maunya diriku hingga rasa percaya ini sangat sulit untuk dipertahankan

Tetapi selalu ada hal-hal yang mampu dan akan terus mampu membuatku selalu dan akan selalu mempercayaimu.

Hal itu adalah kata-katamu, kata-katamu yang bisa meyakinkanku bahwa aku adalah satu-satunya dihatimu. Kata-katamu yang selalu menyenangkan hatiku.

 

Maaf, maafkan aku atas keegoisan yang selama ini aku buat. Dan terimakasih untuk selalu mempercayaiku.

Aku akan belajar untuk selalu mempercayaimu sayang.

Dan percayalah, kamu yang akan selalu ada dihatiku hingga kita bisa bersama selamanya.

Amin.

 

 

Karakter Orang Berdasarkan Golongan Darah-Versi Komik

check this out!

rymind

Penasaran Bagaimana Karakteristik kam u berdasarkan Golongan Darah, Intip Yukkk

1

Sekilas Tentang Gambaran Umum Setiap Golongan Darah

Golongan Darah A

M1m4m7m10Golongan Darah Om13m16

m19

Golongan Darah AB

m21m24

1. Mengenai Ketepan Waktu Janjian Ketemuan

2

2. Cara Mengungkapkan Pikiran

3

3. Cara Berpikir  dan perilaku saat ada janji Temu Jam 15.00

4 - Copy

4. Tempat Favorit dalam sebuah Ruangan

5 - Copy

5. Cara Pandang terhadap sebuah tugas/masalah

8

6. saat Menggosipkan Orang lain

6

7. Ketaatan terhadap Aturan/Perintah/larangan

12

8. Saat menyetir….

10

9. Cara Belajar/konsentrasi…..

7

10. Cara Berpikir …..

9

11.  Tingkat Penghargaan Tiap Golongan Darah terhadap nilai2 Hidup

penghargaan

12. Tujuan Hidup mereka

18

13 Hubungan antar Golongan Darah

17

14. Jika Hati/ Pikiran mereka Di ibaratkan Rumah, maka

12121121212121313131141414131313113115151515. Kemampuan Menghadapi Tekanan/situasi berbahaya

facingdangeroussituation 1facingdangeroussituation 2facingdangeroussituation 3facingdangeroussituation 4facingdangeroussituation 516. Saat Bareng Dikantin

1261299_20130218050829

17. Kemampuan Mengendalikan emosi/marah

1261299_20130218050901

18. Yang Tak Disukai

1261299_20130218051010

19. Keburukan Tiap Golongan darah

1261299_20130218051423

well, itulah Karakteristik Tiap golongan darah…. Jadi Seberapa Akurat Gambaran tadi dengan dirimu? 🙂

View original post

Menemukan Luas Bangun Datar: Persegi Panjang, Persegi, Jajar Genjang, dan Segitiga

bahan ajar

Pendidikan Matematika

Persegi panjang, persegi, jajar genjang, dan segitiga merupakan bangun datar yang sering dijumpai di sekitar kita. Dan sering pula dijumpai mengenai permasalahan yang menyangkut luas dari ketiga bangun tersebut. Perhatikan contoh permasalahan luas persegi panjang berikut ini:

Pak Anton berencana akan membeli pekarangan tanah. Di salah satu daerah, per meter persegi tanah dijual Rp 1.000.000,00. Dan pada daerah tersebut Pak Anton tertarik pada salah satu tanah yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran (8 × 12) m2. Berapa rupiahkah yang harus disediakan Pak Anton untuk membeli tanah tersebut?

Sebelum menyelesaikan masalah tersebut, mari kita temukan rumus untuk menemukan luas persegi panjang. Luas persegi panjang yang dimaksud adalah luas daerah dalam yang dibatasi oleh persegi panjang. Perhatikan gambar berikut:

Luas Persegi Panjang

Luas persegi panjang di atas dapat dicari dengan menentukan banyaknya persegi satuan yang dapat mengisi seluruh daerah persegi panjang yang dimaksud. Untuk mengetahui banyaknya persegi satuan yang dapat mengisi persegi…

View original post 376 more words